Thursday, December 03, 2009
Kesetimbangan Kimia
Tuesday, November 03, 2009
Menghitung Perubahan Entalpi
- Eksperimen
- Berdasarkan hukum Hess
- Menggunakan data entalpi pembentukan standar
- Menggunakan data energi ikatan
- Eksperimen
Alat yang digunakan untuk mengukur perubahan entalpi disebut kalorimeter. Alat ini membuat sistem terisolasi, sehingga dapat mengukur dengan tepat. Ada 2 jenis kalorimeter, yaitu kalorimeter bom dan yang sederhana.
Kalorimeter bom adalah kalorimeter yang menggunakan bilik pemantik untuk membakar benda padat yang akan diuji. Di luar tempat pembakaran diisi air (atau larutan lainnya). Perubahan entalpi dilihat mengikuti perubahan suhu. Maka, besar perubahan entalpi dihitung dengan:
Dimana dan
Kalorimeter sederhana, berbeda dengan bom, tidak melakukan pembakaran, namun hanya mengisolasi larutan yang bereaksi dan membiarkannya bereaksi sementara perubahan suhunya diukur. Besar perubahannya dihitung dengan:
Kapasitas kalorimeter dapat diabaikan, karena kapasitas panasnya kecil.
Catatan:Ingatlah bahwa cair= 4.18 J/gK~4.2 J/gK, walau K(kelvin) dapat disamakan dengan C(celcius) tanpa memakai perubahan nilai.
- Berdasarkan hukum Hess
Hukum Hess menyatakan bahwa reaksi dapat terdiri dari penjumlahan beberapa reaksi lain. Maka, besar perubahan entalpi akan sama, baik jika reaksi berlangsung 1 tahap atau melalui tahap lainnya. Maka:
Dimana n adalah tahapan reaksi ke-n
Contoh:
Perhatikan reaksi pada diagram berikut!
S(s) + 3/2 O2(g) -> SO3(g) ΔH=-395.7 kJmol-1
SO2(g) -> S(s) + O2(g) ΔH=+298.6 kJmol-1 +
SO2(g) + O2(g) -> SO3(g) ΔH=-98.8 kJmol-1
- Menggunakan data entalpi pembentukan standar
Cara ini adalah turunan dari hukum Hess. Cara ini melihat nilai entalpi pemecahan dan penyatuan dari masing-masing senyawa. Data Hof dapat digunakan pula untuk mengetahui besar perubahan entalpi. Perhatikan diagram berikut:
- Menggunakan data energi ikatan
Setiap ikatan antara satu atom dengan atom lainnya pada senyawa memiliki nilai energi ikatan tertentu. Nilai ini menyatakan kekuatan ikatan, sehingga tidak terpengaruh pada perubahan yang terjadi pada senyawa (terbentuk atau terurai). Dilambangkan dengan D.
Untuk menghitung nilai ΔH pada suatu senyawa, lihat ada berapa banyak ikatan yang ada. Ikatan rangkap tetap dihitung sebagai satu. Ingat juga bahwa satu atom yang memiliki banyak pasangan dapat dihitung beberapa kali. Contoh, bila terjadi reaksi hingga CH4 pecah dan DC-H=410 kJmol-1. Gambarlah diagramnya, maka anda melihat bahwa C berikatan dengan 4 atom H. Maka, ΔH dalam proses ini adalah ΔH=4 x 410 = 1640 kJ mol-1 (ingat, ada 4 ikatan C dengan H).
Total nilai ΔH dihitung dengan :
Berikut beberapa nilai D:
Monday, October 05, 2009
Gaya Antar Molekul
Gaya Van der Waals
(a) Gaya London/dispersi
Gaya ini terbentuk ketika elektron pada sebuah atom tidak tersebar secara merata, namun bergerak condong pada satu sisi secara terus menerus (istilah: berosilasi), membentuk dipol (kutub) sementara. Dipol ini akan menginduksi atom lainnya, sehingga tercipta IKATAN LEMAH diantaranya, dan disebut sebagai gaya dispersi.
(b) Gaya Dipol
(1) Gaya Tarik Dipol-dipol
(2) Gaya Tarik Dipol - Dipol Terinduksi (Terimbas)
| Unsur | Ar | Titik didih (oC) |
| He | 2 | -269 |
| Ne | 10 | -246 |
| Ar | 18 | -186 |
| Kr | 36 | -152 |
| Xe | 54 | -108 |
| Rn | 86 | -61.8 |
2.Bentuk molekul
Ikatan Hidrogen
1.Sebuah atom hidrogen yang sepi elektron karena elektronnya diambil karena berpasangan dengan atom yang sangat elektronegatif (N, O, dan F)
2.Sebuah pasangan elektron bebas (PEB) pada atom yang sangat elektronegatif (N, O, dan F)
Catatan: Ikatan hidrogen sering ditemukan pada hidrida, alkohol, dan asam karbosilik.
Sumber:
Purba, Michael. 2006. Kimia Untuk SMA Kelas XI Semester I. Jakarta: Erlangga
Suyatno, dkk. 2007. Kimia Untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Grasindo
Toh, CS. 2009. A-Level Study Guide- Chemistry- Edition 3.0.3. Singapore: Step-by-Step
http://antoine.frostburg.edu/chem/senese/101/liquids/faq/h-bonding-vs-london-forces.shtml
Encyclopaedia Britannica 7.0
Tuesday, August 18, 2009
Perkembangan Teori Atom
Bagian ini membahas tentang perkembangan teori atom, dari dahulu hingga sekarang. Walaupun sudah pernah dibahas pada kelas 10, ada baiknya dibahas lagi, karena pembahasan selanjutnya akan berawal dari pembahasan ini.
Pembahasan
Sumber:
Purba, Michael; 2006; Kimia Untuk SMA Kelas XI Semester 1Jilid 2A; Jakarta:Erlangga
Suyatno, Aris Purwadi, Henang Widiyanto, Kuncoro PR; 2007; Kimia Untuk SMA/MA Kelas XI; Jakarta: Grasindo
www.chem-is-try.com
www.fordhamprep.org
Encyclopaedia Brittanica 2007
Thursday, February 05, 2009
Hidrokarbon - Pengantar
KIMIA
HIDROKARBON – PENGANTAR
Pendahuluan
Hidrokarbon adalah pengantar menuju kimia organik serta berbagai macam teknik perminyakan.
Pengertian
Hidrokarbon adalah senyawa yang terdiri dari hidrogen (H) dan karbon (C). Hidrokarbon adalah dasar dari kimia organik. Mengapa? Karena, pada awalnya, jenis senyawa ini hanya ditemukan pada zat organik. Pada perkembangannya, ia memiliki jenis yang jauh lebih banyak dari di alam.
Kekhasan / kespesialan
Hidrokarbon adalah khas, terutama karena sifat dari atom karbon itu sendiri. Atom karbon memiliki valensi 4, sehingga membuka kemungkinan menarik banyak atom lain. Selain itu, ukurannya yang lebih kecil (hanya 2 lapis) memperkuat ikatan. Selain itu, mungkin juga terbentuk ikatan rangkap dua atau tiga.
Ikatan rantai hidrokarbon
Ikatan ini yang sering dilihat berbentuk garis-garis saat ada gambar mengenai reaksi kimia. Memang, karena inilah hal yang membuatnya istimewa. Bentuk ikatannya beragam dan mudah digambar, karena sederhana. Perlu dicatat, ini adalah ikatan kovalen (C&H).
Dikena istilah atom karbon primer, sekunder, tersier, dan kuartener. Ini semua berhubungan dengan atom karbon lainnya yang terikat pada suatu atom karbon. Karena hanya memiliki 4 atom valensi, maka atom terikat maksimal 4 buah.
Sifat-sifat fisis senyawa organik (hidrokarbon dll.)
Kurang stabil pada pemanasan (lebih mudah mengurai/berubah bentuk saat dipanaskan). Contoh : antara memanaskan gula (organik) dan garam (non organik)
Titik leleh dan titik didih (lebih rendah dari senyawa anorganik). Contoh : lihat percobaan di atas.
Kelarutan (lebih mudah larut pada pelarut non polar (kloroform) dari pada pelarut polar (air)).
Kereaktifan (kurang reaktif / bereaksi lebih sedikit/ bereaksi lebih lambat)
Sumber :
Purba, Michael; Kimia Untuk SMA Kelas X Semester 2 Jilid 1 B; Jakarta: Erlangga
Taufiq, Agus dan Purawisastra, Suryana; Kimia Untuk SMA dan MA Kelas X; Jakarta: Widya Utama
Tuesday, February 03, 2009
Reduksi-Oksidasi
KIMIA
REDUKSI – OKSIDASI
Pendahuluan
Reaksi reduksi-oksidasi (redoks) adalah mengenai teknik-teknik elektrokimia dan berperan penting dalam pembuatan baterai, walaupun bekerja dalam berbagai hal sehari-hari seperti perkaratan logam sampai sistem pernapasan sendiri.
Pengertian
Pengertian reaksi redoks berubah sesuai zaman. Perlu diingat, keduanya selalu terjadi bersamaan. Berikut adalah perkembangannya :
1. Pengikatan dan Pelepasan Oksigen
Pada awalnya, reaksi redoks adalah reaksi yang melibatkan oksigen. Karena itu didapat kata oksidasi, yang berarti mendapat(mengikat) oksigen. Reduksi, kebalikannya, melepas oksigen. Contoh:
Zn(s) + CuO(s) -> ZnO(s) + Cu(s)
Disini, Zn teroksidasi (menjadi ZnO) dan Cu tereduksi (menjadi Cu)
CuO(s) + H2(g) -> Cu(s) + H2O(g)
Cu tereduksi (menjadi Cu) dan H2 teroksidasi (menjadi H2O)
Sumber oksigennya disebut oksidator, dan yang mendapat oksigen disebut reduktor. Jadi, prinsipnya, oksidator direduksi & reduktor dioksidasi. Hasilnya disebut sebagai hasil oksidasi/ hasil reduksi.
2. Pengikatan dan Pelepasan Elektron
Akhirnya, disadari bahwa reaksi yang sama, dapat dilakukan tanpa melibatkan oksigen sedi-kitpun. Contoh, reaksi [Ca+O->CaO] dan [Ca+S->CaS] terdapat kesamaan, yaitu atom Ca melepas dua elektron valensi (gambar struktur lewisnya. Jadi, dilakukan revisi. Oksidasi berarti menerima elektron & mengalami reduksi dan reduksi menerima elektron & mengalami oksidasi. Dari sini, dikenal prinsip ‘setengah reaksi’(half reaction), yaitu reaksi oksidasi atau reaksi reduksi saja. Contoh (seperti pada reaksi elektrolisis):
H2 + F2 -> 2HF
Reduksi: F + e -> F-
Oksidasi : H + e -> H-
Redoks : H + F -> H- + F- atau H + F -> HF
Setengah reaksi tersebut, bila dijumlahkan, akan menjadi reaksi redoks (lihat lagi bagian larutan elektrolit, reaksi elektrolisis).
3. Perubahan Bilangan Oksidasi (Biloks)
Lama kelamaan, disadari bahwa makin sulit untuk menentukan unsur mana yang mereduksi dan mana yang direduksi. Sebagai contoh, lihat reaksi berikut :
4KMnO4(aq) + 6H2SO4(aq) -> 2K2SO4(aq) + 4MnSO4(aq) + 6H2O(l) + 5O2(g)
Karena sulit, maka dilakukan pembentukan ulang konsep redoks. Dikenalkan konsep bilangan oksidasi. Jadi, oksidasi diartikan sebagai peningkatan bilangan oksidasi dan reduksi sebagai pengurangan bilangan oksidasi. Bilangan oksidasi (biloks) adalah muatan (charge) natural sebuah atom. Biloks akan dijelaskan lebih lanjut nanti. Mengapa yang mendapat elektron disebut direduksi (dikurangi)? Karena yang direduksi bukan jumlah elektronnya, tapi nilai muatannya (biloks) yang berkurang (negatif). Dapat disingkat OIL RIG (Oxidation is loss, reduction is gain : Oksidasi melepas, reduksi mendapat). Satu prinsip yang tersisa, adalah atom yang terikat pada oksigen pasti teroksidasi.
Bilangan Oksidasi
Bilangan oksidasi (biloks) adalah nilai muatan alami atom (+2, -3, 0, dll) dalam suatu keadaan (sendiri atau berikatan), atau dalam bahasa ilmiah : ‘Kemampuan atom dalam melepaskan atau menerima elektron pada pembentukan senyawa’ ATAU ‘Besar muatan yang dibawa suatu atom dalam senyawa, jika semua elektron ikatan didistribusikan pada unsur yang lebih elektronegatif’. Konsep biloks ini penting dalam penentuan reaksi redoks modern, dengan alasan yang sudah disebutkan.
Terdapat aturan main penentuan biloks, yaitu :
1. Biloks atom yang bebas (tidak berikatan dengan atom unsur lain) seperti C, I2, O2, Na, dll adalah 0.
2. Biloks golongan 1A, 2A, dan 3A berurut +1, +2, dan +3
3. Biloks O (oksigen) adalah -2, kecuali pada senyawa peroksida, superoksida, dan florin. Dengan peroksida (senyawa dengan kation O2) biloks O=-1. Pada florin (F2O), biloksnya dapat menjadi +2. Pada superoksida, biloksnya menjadi -1/2.
4. Biloks F (florin) selalu -1 (paling elektronegatif)
5. Biloks H (hidrogen) selalu +1, kecuali pada logam hidrida, yaitu -1
6. Biloks unsur logam selalu positif
7. Biloks unsur logam selalu sama dengan muatan ionnya
8. Biloks unsur poliatom (SO4, C2O4, dll) bervariasi
9. Biloks suatu senyawa lengkap (H2SO4, HCl, KOH, NaCl, dl) selalu 0 (netral).
Contoh pemakaian (sesuai urutan di atas):
1. H2, Cl2, Na, C = 0
2. Mg= +2, Na= +1, dsb (lihat tabel periodik unsur)
3. CaO, biloks O= -2; H2O2, BaO2, biloks O= -1; KO2, biloks O= -1/2; F2O, biloks O= +2, karena biloks F= -1
4. HF, biloks F=-1, karena F adalah unsur paling elektronegatif
5. Logam hidrida, LiH, biloks H= -1, karena aturan no.6
6. Biloks Ge=4, Fe=2 &3, dsb
7. Cukup jelas
8. Akan dijelaskan lebih lanjut
9. Akan dijelaskan lebih lanjut
Menentukan biloks suatu unsur dalam sebuah ikatan
Langkah:
· Gunakan rumus : (indeks unsur 1 x biloks unsur 1) + (indeks unsur 2 x biloks unsur 2) +…..+ (indeks unsur n x biloks unsur n) = muatan ( tergantung. Untuk senyawa biasa 0 dan untuk poliatom disesuaikan)
· Masukkan bilangan masing-masing
· Selesaikan, maka variabel yang dicari akan terlihat
Contoh:
Poliatom SO4-2 , berapa biloks S?
Dengan rumus, (1 x biloks S) + (4x (-2)) = -2
Biloks S= -2 + 8 = 6
Senyawa Fe2O3, berapa biloks Fe?
Dengan rumus, (2 x biloks Fe) + (3 x (-2)) = 0
2 Biloks Fe = 6, Biloks Fe= 6/2= 3
Reaksi Disproporsionasi(otoredoks) dan Konproporsionasi
Reaksi khusus ini terjadi apa bila sebuah unsur di satu sisi hanya ada di 1 senyawa, sementara di sisi lain terdapat lebih dari 1.
Reaksi disproprosionasi (otoredoks) adalah reaksi dimana reduktor dan oksidatornya sama (ingat kembali prinsip reduktor dan oksidator). Contoh sederhana:
2 Sn2+ -> Sn + Sn4+
Disini terlihat, atom Sn2+ direduksi menjadi Sn dan dioksidasi menjadi Sn4+.
Reaksi konproposionasi adalah kebalikannya, dimana hasil reduksi dan hasil oksidasinya adalah sama. Contoh : 2H2S + SO2 -> 3S + 2H2O
Biloks S pada H2S adalah -2 dan pada SO2 adalah +4, sementara ia 0 pada S. Maka, hasil reaksi yang sama tersebut harus berada di antara semua biloks reduktor dan oksidator.
Sumber:
Purba, Michael; Kimia Untuk SMA Kelas X Semester 2 Jilid 1 B; Jakarta: Erlangga
Taufiq, Agus dan Purawisastra, Suryana; Kimia Untuk SMA dan MA Kelas X; Jakarta: Widya Utama
Gonnick, Larry dan Criddle, Craig; Kartun Kimia; Jakarta: KPG
Kitti, Sura; Latihan Mandiri Kimia Untuk SMA Kelas X; Jakarta: Penerbit Pelangi Indonesia
www.chem-is-try.org
en.wikipedia.org
www.science.uwaterloo.ca
www.chemistrydaily.com















